MAQOM MU’MIN

BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM.
Allohumma Sholli ‘alaa Muhammad waAhlihi waShohbihi waBarik wa waSalim.
Di antara sifat yang dimiliki oleh orang yang sampai kepada martabat Mukmin ialah:
1: Cermat dalam pelaksanaan hukum Allah SWT.
2: Hati tidak cenderung kepada harta, berasa cukup dengan apa yang ada dan tidak sayang membantu orang lain dengan harta yang dimilikinya.
3: Bertaubat dengan sebenarnya (taubat nasuha) dan tidak kembali lagi kepada kejahatan.
4: Rohaninya cukup kuat untuk menanggung kesusahan dengan sabar dan bertawakal kepada Allah SWT.
5: Kehalusan kerohaniannya membuatnya berasa malu kepada Allah SWT dan merendah diri kepada-Nya.
 

1: Cermat dalam pelaksanaan hukum Allah SWT.
Alfaqir berpesan agar kita tidak melibatkan diri dalam suatu perkara apa pun yang belum kita ketahuidan dasar hukum Allah tentangnya. Upayakanlah mencari kejelasan terlebih dahulu mengenai ketetapan hukum Allah itu sebelum bertindak,sehingga cukup jelas bagi kita, mana yang diridhoi Allah mengenai tindakan kita itu, dan mana yang harus kita tinggalkan. Dengan demikian, kita telah melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan kepastian dan niat yang baik adanya.

2: Hati tidak cenderung kepada harta, berasa cukup dengan apa yang ada dan tidak sayang membantu orang lain dengan harta yang dimilikinya.
Alfaqir juga berwasiat khususnya kpd diri alfaqir sendiri dan juga kepada anda semua, hendaklah selalu menngutamakan keserdehanaan dalam pola kehidupan anda semua sehari-hari, baik yang berkenaan dengan makanan, busana maupun rumah tempat tinggal anda. Semata-mata demi bersikap rendah hati (ber-tawadhu’) dalam agama, lebih mengutamakan akhirat dan sebagai manifestasi dari menjadikan Nabi Muhammad Saw. Sebagai teladan utama.Ketahuilah bahwa melaksanakan keserdahanaan dalam kehidupan duniawi merupakan titk pangkal dari segala kebaikan. Dan tidaklah Allah Swt. Mengkhususkan seseorang dengan sikap seperti itu, kecuali ia pasti mengkehendaki kemuliaan baginya dalam kehidupan didunia maupun di akhirat. Dengan syarat, ia merasa ridha (puas hati) sepenuhnya atas apa yang dianugerahkan Allah Swt. baginya, tidak tertarik kepada keindahan duniawi yang ada di sekelilingnya dan tidak mengharap-harap diberikan kepadanya apa yang diberikan oleh-Nya kepada para ahli dunia, agar ia dapat merasakan kenikmatan duniawi seperti yang mereka rasakan.

3: Bertaubat dengan sebenarnya (taubat nasuha) dan tidak kembali lagi kepada kejahatan.

Taubat dari dosa yang dilakukan oleh seorang mu’min –dan saat itu ia sedang berusaha menuju kepada Allah SWT — adalah kewajiban agama. Diperintahkah oleh Al Quran, didorong oleh sunnah, serta disepakati kewajibannnya oleh seluruh ulama, baik ulama zhahir maupun ulama bathin.Allah SWT berfirman:”Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS .Al Hujurat: 11)Ini adalah dalil akan kewajiban bertaubat. Karena jika ia tidak bertaubat maka ia akan menjadi orang-orang zhalim. Dan orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung.

4: Rohaninya cukup kuat untuk menanggung kesusahan dengan sabar dan bertawakal kepada Allah SWT.

Alfaqir ber wasiat pula kepada kita semua, keluarkan setiap harapan ataupun kecemasan yang kita rasakan dalam hati kita terhadap siapa pun di antara makhluk Allah. Sebab, adanya perasaan seperti itu akan menjadi penghalang bagi kita untuk menegakkan kebenaran dan jangan sekali-kali membiarkan rasa takut akan kemiskinan menyelinap ke dalam hati anda kerana yang demikian itu merupakan seburuk-buruk pendamping diri kita sendiri.Janganlah pula memikirkan secara berlebihan segala yang berkaitan dengan perolehan rezeki. Terlalu memikirkan hal seperti itu tidak ada dasarnya selain adanya keraguan berkaitan dengan takdir Allah Swt. Apa saja keuntungan ataupun kerugian yang telah ditakdirkan untuk kita pasti akan terlaksana ; dengan atau tanpa usaha kita sendiri, sesuai dengan apa yang telah digoreskan oleh pena Allah dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh. Oleh sebab itu, apa gunanya bersikap berlebihan dalam memikirkan sesuatu yang telah selesai urusannya, dan tentang hal itu hati kita telah ditenangkan oleh Allah Swt dengan penjelasan dalam kitab-Nya bahwa ia telah memberikan jaminan bagi kita (tentang rezeki yang disediakan bagi setiap makhlukn-Nya) seraya bersumpah dengan diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu, pusatkanlah perhatian kita untuk melaksanakan hak Allah Swt. yang telah diwajibkan pelaksanaannya atas diri kita. Karena, sesungguhnya kebanyakan manusia zaman sekarang menghadapi fitnah (ujian berat atau bencana), berupa memikirkan secara berlebihan tentang rezeki. Hal itu merupakan hukuman atas mereka akibat melalaikan pelaksanaan perintah-perintah Allah seraya mengerjakan laran-larangan-Nya.Saya juga berwasiat, agar kita senantiasa bersikap lemah-lembut dalam setiap urusan, mengutamakan keikhlasan dalam setiap amal dan kegiatan, meninggalkan kesibukan-kesibukan yang menghalangi antara kita dan Allah Swt. terutama yang berkenaan dengan harta dan keluarga. Berkonsentrasilah hanya dalam sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan anda dalam kehidupan mendatang. Kembalilah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya dalam setiap keadaan; seraya meneladani Rasullulah Saw. Dalam akhlak, ucapan dan perbuatannyaUsahakanlah sungguh-sungguh untuk membeningkan hatimu dan menyinarinya dengan tiga hal: Pertama, dengan membaca Al-Quran dengan tartil dan tadabbur (yakni menekuni tatacara pembacaannya dan merenungi maknanya). Kedua, dengan ber-zikrullah dengan penuh adab dan kehadiran hati. Ketiga, dengan melakukan qiyamullail (shalat malam) dengan hati luluh dan anggota tubuh yang khusyu’.
Ada tiga hal yang perlu anda lakukan demi memudahkan terlaksananya ketiga amalan di atas.. Pertama, meringankan perut dengan hanya makan sedikit saja. Kedua, memisahkan diri dari kelompok manusia yang lalai akan tuhannya. Ketiga, membebaskan diri dari kesibukan dunia yang fana.

5:Orang yang telah mencapai peringkat ini dikatakan mencapai “MAKAM TAUHID SIFAT”.
Hatinya jelas merasakan bahwa tidak ada yang berkuasa melainkan Allah SWT dan segala sesuatu datangnya dari Allah SWT.Rohani manusia melalui beberapa peningkatan dalam proses mengenal ALLAH SWT. Pada tahap pertama terbuka MATA HATI dan NUR QOLBU memancar menerangi AKALnya. Seorang Mukmin yang akalnya diterangi Nur Qalbu akan melihat betapa dekatnya ALLAH SWT dia melihat dengan ilmunya dan mendapat keyakinan yang dinamakan “ILMU YAQIN”.Pada tahap keduanya MATA HATI yang terbuka sudah boleh melihat. Dia tidak lagi melihat dengan mata ilmu tetapi melihat dengan MATA HATI. Keupayaan MATA HATI memandang itu dinamakan KASYAF. Kasyaf melahirkan pengenalan atau Mak’rifat. Seseorang yang berada di dalam makam Mak’rifat dan mendapat keyakinan melalui Kasyaf ‘dikatakan memperolehi keyakinan yang dinamakan AINUL YAQIN. Pada tahap AINUL YAQIN Mak’rifatnya Ghaib dan dia juga Ghaib dari dirinya sendiri. Maksud Ghaib di sini adalah hilang perhatian dan kesadaran terhadap sesuatu perkara.. Beginilah hukum Mak’rifat yang berlaku.Dia berfirman:”Dan Ia (Allah) tetap bersama-sama kamu di mana saja kamu berada.”( Ayat 4 : Surah al-Hadiid).

ALHAMDULILLAHIROBBIL’ALAMIN.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s